Mensyukuri Nikmat Iman, Islam & Sehat Wal ‘Afiat

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Allah SWT. telah memberikan kita begitu banyak nikmat dalam kehidupan ini, mulai dari bangun tidur sampai kita tidur kembali. Betapa banyak nikmat yang kita rasakan, sehingga kita tidak mampu menghitung semua nikmat yang Allah berikan kepada kita dan tentunya akan sangat binasa jika nikmat tersebut dicabut.

Mari kita renungkan, jika saat ini Allah mencabut keimanan dalam diri kita, maka hidup kita akan terombang – ambing. Sehingga diri kita terjerumus ke dalam kemusyrikan dan keburukan lainnya. Andai saja saat ini Allah mencabut Islam kita, kita murtad dari Islam, jauh dari hidayah, maka kita akan celaka karena tidak mengimani sesuatu yang sudah jelas kebenarannya.

Alhamdulillah, saat ini kita berada dalam agama Islam, karena memang kita berasal dari keluarga/orang tua yang sudah Islam, sehingga kita adalah seorang Muslim sejak lahir. Tapi coba bayangkan bagaimana saudara-saudara kita yang bukan berasal dari keluarga/orang tua yang Muslim, saat usia dewasa mereka berjuang mencari hidayah mencari kebenaran yang hakiki tentang Islam, sehingga mereka masuk ke dalam Islam dan tentunya saat mereka memutuskan untuk masuk ke dalam Islam, mereka mendapati banyak kesulitan dalam hidupnya, dijauhkan dari lingkungan keluarganya, bahkan sampai diusir dari rumahnya.

Coba kita renungkan bagaimana dulu para sahabat di masa-masa mereka harus berjuang masuk Islam saat mereka harus memeluk agama nenek moyang mereka yaitu menyembah berhala, tapi mereka memilih jalan Islam mereka mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan akhirnya mereka mengalami penindasan dan kekerasan dari kaum mereka. Salah satunya adalah Sahabat yang bernama Bilal seorang budak berkulit hitam, saat beliau dipaksa kembali untuk menyembah berhala dan meninggalkan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad, beliau tetap mengatakan “Ahadun, Ahadun, Ahad” yang artinya Allah itu Esa, lantas saat itu orang-orang kafir menibani badan beliau dengan batu yang sangat besar. Begitu dahsyatnya keimanan dan KeIslalaman Bilal. Maka dari itu sudah seharusnya kita menyusuri nikmat agama Islam ini dengan memperbanyak Ibadah kepada Allah SWT.

Selanjutnya nikmat sehat wal ‘afiat. Nikmat sehat ini sangat mahal sekali nilainya dan tidak bisa dinilai dengan uang, misalnya saat ini kita diberikan nikmat bernafas oleh Allah SWT, setiap detik kita bernafas. Bayangkan jika nafas itu diuangkan, maka berapa uang yang kita harus keluarkan untuk satu kali nafas sedangkan kita bernafas setiap detik. Jika Allah cabut nikmat bernafas kita, maka kita akan kesulitan bernafas dan harus menggunakan alat bantu oksigen yang mahal harganya. Yang lebih mengerikan lagi, jika Allah cabut nikmat bernafas kita sampai kita sudah tidak bernafas lagi, kita akan wafat. Sedangkan amalan kita belum cukup untuk bekal di akhirat. Maka dari itu sudah seharusnya kita menggunakan nikmat sehat ini untuk terus beribadah kepada Allah, melakukan kebaikan dengan niat karena Allah dan menyiapkan bekal akhirat untuk kembali kepada Allah SWT.

Alhamdulillah sudah 9 tahun Zakat Sukses menebar kepedulian, menebar manfaat, menebar kebahagiaan, memberdayakan masyarakat, membantu sesama, dan berupaya mewujudkan masyarakat yang berdaya dan peduli. Semoga di usia yang ke 9 tahun ini, para pendiri Zakat Sukses, para Amil Zakat Sukses, para relawan Zakat Sukses, para Muzakki Zakat Sukses, para Mustahiq Zakat Sukses senantiasa Allah bimbing IMAN dan ISLAM kita semua, Allah berikan kesehatan untuk kita semua, Allah Istiqomahkan kita semua untuk tetap berada di jalan dakwah zakat ini.