Tips Shalat Khusyu’ yang Wajib Diketahui


Tips Shalat Khusyu’ yang Wajib Diketahui – Shalat merupakan ibadah wajib yang harus dijalankan oleh seluruh umat Islam di dunia. Seperti yang diketahui bahwa tata cara shalat dari zaman Rasulullah SAW, hingga sekarang tidak ada perbedaan.

Namun, perbedaan shalat di zaman Rasulullah SAW, terlihat tampak pada kekhusyu’annya. Mungkin dalam suatu kajian atau sekedar melihat ceramah di youtube, kita pernah mendengar bagaimana shalatnya Rasulullah SAW, hingga kakinya bengkak.

Atau kita juga pernah mendengar bagaimana sahabat bermakmum dengan Rasulullah SAW, dengan bacaan yang amat panjang, menghatamkan surat Al Baqarah, Ali Imran dan surat panjang lainnya.

Di zaman itu, kita jarang mendengar sahabat mengeluh karena shalatnya tidak khusyu’. Tetapi di zaman sekarang, persoalan khusyu’ seperti sudah menjadi masalah umum yang kerap sekali dirasakan.

Hal ini dikarenakan, banyaknya persoalan dunia yang terbawa dalam shalat, sehingga membuat sulit konsentrasi dan akhirnya shalat tidak khusyu’. Lantas apa sebenarnya khusyu’ itu? Dan bagaimana cara agar shalat bisa khusyu’ di zaman sekarang?

Menurut Syekh Wahbah bin Mustafa az-Zuhaili dalam menafsirkan surat al-Mukminun ayat 2, menjelaskan bahwa “khusyu’ adalah kepasrahan, kerendahan, rasa takut kepada Allah”, tepatnya di hati, karena hati yang menguasai seluruh anggota tubuh.

Berikut tips yang dapat dilakukan untuk shalat khusyu’:

Meninggalkan Segala Urusan Dunia

Sejatinya, ketika seseorang melepas alas kaki untuk shalat, maka ia sudah melepaskan beban dunia yang ada di pundaknya. Artinya, untuk shalat khusyu’ tinggalkanlah semua urusan dunia dan kembali kepada Allah SWT., dengan hati dan jiwa yang tulus.

Menyiapkan Diri untuk Shalat

Mulai dengan mengenakan pakaian yang rapi dan bersih serta menutup aurat dengan sempurna. Saat shalat bukan berarti harus menggunakan pakaian mahal atau yang baru, namun memperhatikan kebersihannya akan membantu kita lebih fokus dan nyaman.

Selain itu, usahakan saat shalat jangan menggunakan pakaian bergambar karena bisa menggagu orang lain yang melihat. Menyiapkan diri juga berarti berwudhu dengan benar dan memahami makna setiap gerakan wudhu.

Saat membasuh muka, maka keluarlah dosa dari sela-sela mata, hidung dan mulut, saat membasuh tangan maka keluarlah dosa dari jari-jemari, saat mengusap kepada dan telinga maka keluarlah dosa dari ubun-ubun dan lubang telinga serta saat membasuh kaki maka keluarlah dosa dari celah-celah kaki.

Mendengarkan Adzan dan Tidak Bicara

Saat adzan dikumandangkan hendaknya kita menjawab sesuai dengan lafadz yang didengar, kecuali pada kaliamat hayya ‘alash sholah dan hayya ‘alal falah, maka mengucapkan, “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (artinya: Tidak ada daya upaya dan kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah).

Saat adzan hingga iqomah, maka hukumnya makruh berbicara yang sia-sia. Kemudian, setelah selesai adzan maka hendaknya mengerjakan shalat sunnah qobliyah dua rakaat kemudian dilanjutkan dengan dzikir.

Memahami Hakikat Shalat

Shalat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab, oleh karenanya dalam setiap shalat anggaplah itu shalat terakhir yang kita kerjakan dan akan pergi dari dunia kembali menghadap Allah SWT.

Tegaknya badan saat shalat sama halnya dengan tegaknya kita di padang masyar. Di mana pada saat itu orang tidak lagi memikirkan dunia, melainkan memikirkan berapa banyak amalnya dan mampukah mengantarkan ke surganya Allah.

Jadikan shalat sebagai kebutuhan, dengan demikian kita tidak akan merasa terpaksa melakukannya. Karena jika menjadikan shalat sebagai beban, maka sampai kapan pun shalatnya tidak akan khusyu’.

Memahami Gerakan dan Bacaan Shalat

Saat takbir, maka kedua tangan mengangkat yang diumpamakan melempar segala urusan dunia ke belakang. Pada saat yang bersamaan juga mengucap “Allahu Akbar” berati tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT.

Ketika membaca surat Al-Fatihah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menjawab atas kalimat-kalimat yang kita ucapkan.

Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah berfirman, Aku membagi shalat untukku dan hambaku dalam dua bagian, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dimintanya. Jika hambaku mengucapkan: Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin (segala puji bagi Allah penguasa jagat raya), Ku-jawab: “hamidani ‘abdi” (hamba-Ku memuji-Ku).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Arrahmanirrahim” (yang Maha pengasih lagi penyayang), Ku-jawab: “Atsna ‘alayya ‘abdi” (hamba-Ku memujiku lagi).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Maaliki yaumiddien” (pemilik hari pembalasan), Ku-jawab: “Majjadani ‘abdi” (hamba-Ku menyanjung-Ku).

Jika hamba-Ku mengatakan: “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta tolong). Ku-jawab: Inilah batas antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta.

Jika hamba-Ku mengatakan: “Ihdinassiraatal mustaqiem… dst” (tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang kau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat), Ku-jawab: Inilah bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta (HR. Muslim).

Begitu pula saat rukuk, i’tidal dan sujud hingga salam. Resapi setiap gerakan dan berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalat.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa shalat yang khusyu’ harus dipersiapkan dan senantiasa merasakan kehadiran Allah, dengan memahami hakikat, gerakan dan bacaan shalat.

Semoga kita semua termasuk dalam orang-orang yang dimudahkan dalam mengerjakan shalat dan senantiasa mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.

Selain shalat, hendaknya kita juga memaksimalkan ibadah lain seperti infak, sedekah dan zakat atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah. Dalam menyalurkannya, Zakat Sukses menjadi alternatif terbaik Anda, karena terpercaya dan amanah. Untuk itu Anda dapat menyalurkan langsung melalui link berikut ini: (https://zakatsukses.org/zakat-sukses-home/zakatsukses-rekening-donasi/”’)

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakannya.” (HR Muslim).