Tantangan Lembaga Zakat di Era Revolusi Industri 4.0

Di era yang kian tumbuh dengan sangat pesat ini manusia seakan dipaksa untuk selalu belajar hal baru. Pertumbuhan industri membuat pola hidup masyarakat yang semula membutuhkan suatu proses yang panjang harus siap digantikan dengan pola masyarakat yang serba instan dan cepat.

Penyebab dari revolusi ini adalah pesatnya perkembangan digital, terutama internet. Masyarakat pun mulai beralih dari kehidupan analog menuju kehidupan digital yang menembus batas waktu. Dengan perangkat smartphone yang digadang – gadang dapat membantu kehidupan menjadi lebih mudah dan ringan, menciptakan suatu aktivitas baru, yaitu aktivitas siber dengan netizen sebagai julukan masyarakatnya.

Dampak dari revolusi ini adalah perusahaan ataupun lembaga mulai mengubah kebiasaan dan strategi marketing mereka. Dari yang biasanya mengandalkan pasar nyata, kini mereka harus bersaing dengan pasar maya yang ada di internet saat ini. Yang bertahan dan beradaptasi, mampu bertahan dan semakin maju. Yang masih bertahan namun kurang beradaptasi masih mencoba bangkit walau terseok – seok. Dan yang tumbang adalah yang tidak dapat beradaptasi dengan keadaan saat ini.

Sebagai salah satu lembaga yang terkena dampak Industri 4.0, lembaga zakat juga harus memainkan peran lebih lincah untuk menghadapi perkembangan zaman ini. Dari yang hanya sekedar lembaga yang mengelola ZISWAF (Zakat,Infak,Sedekah,Wakaf), tetapi sekarang mulai bergeser kepada aksi kemanusiaan secara umum dan juga pemanfaatan instrumen tersebut ke ranah infrastruktur dan perekonomian negara.

Selain itu, untuk memaksimalkan potensi zakat di Indonesia yang berjumlah sekitar Rp. 252 Triliun (Baznas), namun yang berhasil dikelola hanya sekitar Rp. 8,1 Triliun. Itu berarti ada banyak potensi yang harus dikelola secara serius dan profesional.

Ditambah pada tahun ini usia penduduk 15 – 35 tahun lebih banyak. Itu berarti lembaga zakat membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan mereka terlebih paparan budaya penggunaan smartphone dan tumbuhnya budaya cashless society seperti e-money dan tapcard.

Oleh karena itu, pertumbuhan industri 4.0 ini harus dihadapi dengan kesiapan lembaga zakat untuk mempersiapkan instrumen pendukung, khususnya untuk cashless society dengan mempermudah mereka bertransaksi ZISWAF. Serta dengan menggunakan pendekatan yang berhubungan dengan tren masyarakat usia produktif saat ini di internet. Dengan begitu, diharapkan lembaga zakat dapat bertahan dan berkembang di era 4.0 ini.