Panitia zakat dadakan, apakah termasuk amil?

Di bulan Ramadhan, selain berpuasa ada juga kewajiban yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Kewajiban tersebut adalah berzakat. Zakat ada banyak jenisnya, namun dibulan Ramadhan zakat yang wajib dibayar dan hanya ada dibulan tersebut adalah zakat fitrah.

Pada dasarnya, seorang muslim dapat menyerahkan zakatnya secara pribadi kepada pihak yang berhak menerima zakat. Dengan adanya kewajiban tersebut, dibutuhkan pengelola zakat agar tersalurkan kepada pihak yang menerimanya/mustahik. Karena penerimaan zakat tidak boleh sembarang orang yang menerimanya, maka harus hati – hati dalam mengelola zakat tersebut.

Untuk memudahkan pengelolaan zakat, biasanya dibuat unit pengumpul zakat insidentil pada suatu daerah. Unit pengumpul zakat ini bertugas menerima dan menyalurkan zakat khusus di daerah tersebut. disebut insidentil, karena operasional para unit pengumpul zakat ini hanya ada dibulan Ramadhan saja, khususnya untuk mengurus zakat fitrah. Setelah Ramadhan, kepanitiaan tersebut dibubarkan.

Lalu, apakah orang – orang tersebut termasuk pengelola zakat (Amil) yang dimana disebutkan dalam Alqur’an? Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh masyarakat mengenai hal tersebut. beberapa pertanyaan tersebut dijawab oleh Ustadz Farid Nu’man. Berikut pertanyaan dan jawaban yang dikemukakan oleh Ustadz Farid Nu’man :

Apakah panitia zakat fitrah yg dibentuk oleh takmir masjid berhak mendapat hasil dari Zakat Fitrah?

Klo memang iya seberapa besar porsinya?

Mengingat kebiasaannya Pantia zakat terlalu banyak.

Syukron

 

Bismillahirrahmanirrahim ..

Panitia zakat dadakan yang munculnya hanya di bulan Ramadhan, lalu bubar setelah itu, bukanlah Amil Zakat. Amil Zakat itu mereka yang ditunjuk oleh negara dan memang sehari-harinya bertugas memungut zakat dari para Muzakki lalu menyalurkan kepada para mustahiq. Seperti Lembaga Zakat yg sudah mendapatkan lisensi dari pemerintah, dan pegawainya pun menghabiskan umurnya untuk itu, itulah Amil Zakat yg berhak mendapatkan zakat.

Dalam kamus Al Ma’aniy:

“ Dia adalah petugas yg ditunjuk oleh penguasa, dengan perintah memungut zakat dari sumbernya dan menyalurkannya sesuai aturan syariat. (selesai) ”

Dalam konteks madzhab Syafi’iy, Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah mengatakan:

“ Amil Zakat adalah mereka yang diutus oleh pemimpin untuk memungut zakat, baik pekerjanya, penulisnya, pengumpulnya dan distributornya yang menyalurkan ke 8 asnaf. (Al Fiqhusy Syafi’iy Al Muyassar, 1/342) ”

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah menjelaskan:

“ Dia adalah orang yang dipakai oleh imam untuk mengambil zakat dan memberikannya kepada yang berhak. ( Misbahuzh Zhalam, 2/126) ”

Jadi, yg antum tanyakan -yaitu panitia zakat-  bukanlah Amil Zakat yg sebenarnya. Tapi, panitia zakat dadakan ini boleh saja di berikan ujrah (upah), dengan akad ijarah (sewa jasa) dgn nominal yg sepatutnya, dan diambil dari sumber selain zakat.

Ada pun Amil Zakat, berapakah bagian mereka?

Imam Asy Syafi’iy Rahimahullah mengatakan:

“ Amil diberikan 1/8 sesuai dengan realisasi firman Allah Ta’ala. ”

Sedangkan, Imam Abu Hanifah Rahimahullah mengatakan:

“ Imam memberikan para Amil Zakat sesuai kadar pekerjaan mereka. (Misbahuzh Zhalam, 1/28) ”

 

Kesimpulan dari jawaban tersebut adalah seorang amil, atau yayasan pengumpul zakat harus memiliki izin dari pemerintah terkait pengelolaan zakat. Mengingat negara Indonesia merupakan negara yang diatur oleh undang – undang, maka unit pengumpul zakat harus mendapatkan lisensi izin resmi dari pemerintah. Dengan adanya lisensi tersebut, maka boleh jadi seseorang yang berkecimpung dalam yayasan tersebut boleh disebut dengan amil

Wallahu’alam.