Musibah: Cobaan Ataukah Hukuman dari Allah?


Musibah: Cobaan Ataukah Hukuman dari Allah? – Musibah berasal dari kata a-saba yang artinya menimpa. Dalam Al Qur’an kata musibah pada umumnya menjelaskan sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif.

Sementara dalam serapan Indonesia, musibah selalu dikaitkan dengan peristiwa yang menyengsarakan, menyakitkan dan bernilai negatif yang menimpa manusia.

Jika diamati, musibah biasa dikaitkan dengan bencana-bencana yang terjadi, seperti kebakaran, tsunami, gempa bumi, banjir dan sejenisnya.

Secara visual, kejadian-kejadian tersebut adalah hal yang negatif. Namun, secara naluri atau batin bencana mampu menyadarkan manusia tentang besarnya penguasa alam yakni Allah SWT.

Baru-baru ini kita mendengar musibah yang terjadi pada saudara kita di wilayah Cianjur dan sekitarnya. Di mana terjadi gempa dengan kekuatan magnitudo 5.6 yang menghancurkan lebih dari 22.198 unit rumah dan bangunan.

Berdasarkan laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada Selasa (22/11) setidaknya terdapat 268 jiwa korban yang meninggal dunia dan 1.083 korban luka-luka.

Menanggapi peristiwa di atas, sebagian orang mungkin bertanya, sebenarnya musibah yang didatangkan oleh Allah SWT., merupakan cobaan atau justru hukuman kepada umat manusia atas segala dosa yang dilakukan.

Musibah Bermakna Cobaan

Musibah dimaknai sebagai cobaan karena Allah SWT., ingin meningkatkan derajat orang-orang mukmin yang senantiasa sabar walaupun diuji dengan musibah besar. Jika hambanya ridha dan sabar maka orang tersebut berhasil melewati cobaan dari Allah.

Orang yang sabar termasuk dalam golongan makhluk yang beruntung. Allah SWT., memuliakan orang-orang yang sabar dengan balasan yang paling tinggi yaitu surga.

Sebagaimana hadist shahih, Rasulullah SAW pernah bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba ketika didahului kedudukan di sisi Allah, di mana amalannya tidak sampai (kepadaNya), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.” (HR. Abu Dawud, 3090) dinyatakan shahih Albany dalam ‘Silsilah Shohehah, no. 2599.

Dari hadist di atas, mengajarkan bahwa musibah yang datang hendaknya dimaknai sebagai cobaan, dengan demikian umat manusia akan senantiasa bersabar dan meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT.

Dalam hadist lain, Rasulullah SAW., bersabda,

“Sesungguhnya agungnya pahala disertai dengan besarnya cobaan. Sesungguhnya Allah ketika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha maka Dia akan ridha dan siapa yang murka, maka Dia juga akan murka.” (HR. Abu Dawud, 2396)

Musibah Bermakna Hukuman

Musibah dimaknai sebagai hukuman dikarenakan dosa dan kemaksiatan yang merajalela. Kekufuran di mana-mana, judi, zina, pemabuk, dan banyak kejahatan di muka bumi menjadi pemicu murkanya Allah.

Musibah bisa didatangkan untuk perorangan dan suatu golongan. Misalnya, musibah kematian mungkin kesedihannya hanya dirasakan bagi beberapa orang saja.

Namun, musibah kebakaran, gempa bumi dan musibah besar lainnya maka yang merasakan hampir semua orang yang ada di tempat kejadian tersebut.

Dalam Q.S An-Nisa ayat 79 Allah SWT., berfirman,

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

Artinya: “Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.”

Menurut ulama tafsir, maksud yang disebabkan oleh kesalahan sendiri, dijelaskan dalam Q.S As Syuro ayat 30,

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Artinya: “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Namun, tentu terdapat pelajaran dari hukuman atas musibah dari Allah SWT. Hal itu tidak lain agar manusia kembali kepadanya dengan takwa.

Cukuplah musibah sebagai bukti kepada kita untuk bertaubat dan memperbanyak amal shalih. Karena sejatinya kita hanyalah singgah di dunia ini, yang nanti akan kembali ke kampung halaman yaitu akhirat.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa musibah dapat bermakna cobaan karena Allah ingin mengangkat derajat hambanya, dan bisa pula bermakna hukuman karena dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Baru-baru ini kita medengar bahwa saudara kita yang berada di wilayah Cianjur dan sekitarnya sedang diuji oleh Allah dengan musibah gempa bumi. Oleh karenanya, mari kita bantu saudara kita dengan menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk meringankan beban mereka.

Dalam hal ini, melalui tim Aksi Tanggap Bencana, Zakat Sukses terjun langsung ke lokasi gempa bumi Cianjur dengan memberikan berbagai bantuan seperti terpal tenda, kebutuhan bayi, makanan dan kebutuhan logistik lainnya. Mari bantu saudara kita melalui Zakat Sukses dengan cara berdonasi di Sahabat Berbagi bantu warga Cianjur pada link berikut:
https://sahabatberbagai.org/bantu-warga-cianjur