Mendidik Anak Seperti Nabi Ismail a.s: Pelajaran Berharga dari


Mendidik Anak Seperti Nabi Ismail a.s: Pelajaran Berharga dari – Di awal bulan Dzulhijjah 1443 H, LAZ Zakat Sukses mengadakan kajian yang mengangkat tema “Mendidik Anak Seperti Nabi Ismail a.s. mengundang Ustadz Bendri Jaisyurrahman sebagai pembicara. Dalam kajian tersebut, Ustadz Bendri menyampaikan bahwa di bulan Dzulhijjah ini, kita bisa belajar dari kisah Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya. Bahkan Allah menyebutkan, keluarga Ibrahim a.s. sebagai keluarga terbaik dalam Al Qur’an Surat Ali Imran ayat 33.

Sosok keluarga Ibrahim a.s. adalah contoh terbaik bagi keluarga kita. Keluarga Ibrahim a.s. adalah contoh keluarga yang unik, karena Nabi Ibrahim a.s. adalah kepala keluarga yang sangat sibuk karena hanya pulang satu tahun sekali. Namun, Nabi Ibrahim a.s. tidak menafikan perannya sebagai seorang ayah. Belajar dari Nabi Ibrahim a.s., sesibuk-sibuknya seorang ayah seharusnya tetap menjalankan perannya sebagai seorang ayah.

Keluarga Nabi Ibrahim a.s. adalah keluarga yang keturunannya kelak akan menjadi pemimpin di masa depan. Hal tersebut tersirat dalam QS. Al Baqarah 124,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

Ustadz Bendri menjelaskan bahwa doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim tersebut menandakan bahwa Nabi Ibrahim memiliki visi sebagai seorang ayah. Visi seorang ayah yang sejati adalah berharap bahwa kebaikan yang dimilikinya dapat diteruskan kepada anak cucunya, senantiasa memikirkan cara kaderisasi terbaik untuk anak-anaknya agar kelak mampu mengikuti jejaknya.  Menurut Ustadz Bendri, hal tersebut wajib dilakukan mengingat sejatinya SOP seorang ayah adalah memikirkan diri sekaligus keluarganya. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al Qur’an surat At-Tahrim ayat 6,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat tersebut menyiratkan bahwa penjagaan diri harus diiringi dengan penjagaan keluarga, khususnya penjagaan dari dosa atau maksiat, karena Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban kepada seorang ayah di hari kiamat kelak. Hal itu dapat dilihat dalam hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ « أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

“Dari Ibnu Umar RA dari Nabi SAW sesunggguhnya bersabda: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR. Muslim)

Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang pemimpin keluarga yang berhasil karena beliau mampu mencetak seorang anak yang dapat menjadi teladan umat dalam mendidik anak laki-laki, yaitu Nabi Ismail a.s. Kita dapat mengambil banyak inspirasi dan hikmah dari Nabi Ibrahim a.s. dalam mendidik keluarganya, diantaranya:

  1. Memberi nama yang baik untuk anak

Nama Ismail dalam bahasa Ibrani diambil dari kata “Isma” yang berarti mendengar dan “Il” yang berarti Tuhan. Maka, Ismail berarti Allah mendengar atau menjawab doa Nabi Ibrahim a.s. yang diminta dalam QS. As Shaffat : 101.

  • Berdoa dan bersungguh-sungguh dalam mendidik anak

Nabi Ibrahim a.s. berdoa bahkan sejak sebelum anaknya lahir. Beliau sangat bersungguh-sungguh bermunajat kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim adalah ayah yang kaya akan doa. Salah satu doa Nabi Ibrahim a.s. yang dipanjatkan untuk anaknya, yakni,

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Artinya:“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Doa Nabi Ibrahim a.s. ini diwujudkan dan dikabulkan oleh Allah SWT dengan hadirnya Nabi Muhammad SAW sebagai keturunannya dari Nabi Ismail a.s.

  • Mengikat hati anak dengan cara memperbaiki hubungan dengan Allah SWT

Nabi Ibrahim adalah sosok ayah yang senantiasa memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT. Ia merupakan seorang ayah yang sibuk dan jarang pulang sehingga intensitas pertemuan dengan anak-anaknya sangat terbatas. Namun, Nabi Ibrahim a.s. mampu membuat anak-anaknya tetap terjaga, meski dirinya tidak selalu ada.

Beliau mencontohkan kepada kita untuk mengikat hati anaknya dengan sesuatu yang kuat ikatannya dan tidak akan putus, yaitu tali Allah. Maka salah satu yang ia jaga adalah bagaimana hubungannya dengan Allah. Jika ingin mendidik anak yang hebat, maka spritualitas orang tua harus diperkuat.

  • Memberi contoh kepada anak-anak

Nabi Ibrahim a.s. mendahulukan dirinya dalam suatu kebaikan, baru kemudian anak-anaknya. Dengan begitu, Nabi Ibrahim a.s. berharap agar dirinya dapat menjadi contoh dan teladan yang bisa ditiru oleh anak-anaknya.

  • Mencari supporting system dari lingkungan yang baik

Dalam Al-Quran dikisahkan Nabi Ibrahim selalu memanjatkan doa untuk keamanan dan keberkahan berupa kelimpahan rezeki untuk kota tempat tinggalnya, yakni Makkah. Berikut doa Nabi Ibrahim tersebut:

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا ءَامِنٗا وَٱرۡزُقۡ أَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ مَنۡ ءَامَنَ مِنۡهُم بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” (QS. Al-Baqarah [2]: 126).

Dari ayat tersebut, kita diajarkan untuk senantiasa berdoa sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. agar diberikan tempat tinggal yang baik dan berkah. Umat muslim dianjurkan untuk mencari rumah yang dekat dengan masjid dan jauh dari pasar.

6. Mempraktikkan komunikasi yang berkualitas kepada anak

Nabi Ibrahim a.s. begitu menyadari pentingnya menjaga dan mempraktikkan komunikasi yang baik dengan anaknya. Menurut Ustadz Bendri, beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk membangun komunikasi yang berkualitas dengan anak, diantaranya memanggil anak dengan panggilan mesra atau kesayangan, menjelaskan suatu ilmu secara kontekstual (contextual word), memberikan pertanyaan yang dapat memacu anak berpikir (thinking word), serta meminta dan menghargai pendapat anak.

Dengan menerapkan kiat-kiat yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s tersebut, diharapkan dapat membantu tiap orang tua yang hendak mendidik anaknya. Mendidik anak seperti Nabi Ismail a.s. harus dimulai dari sejak sebelum anak itu lahir. Seorang ayah atau orang tua harus memiliki visi melahirkan keturunan yang mampu melanjutkan kebaikan dan risalah Islam. Tentunya visi tersebut perlu diiringi dengan berbagai ikhtiar dan doa. Kita harus ingat bahwa doa ibarat tabungan, tidak akan ada yang sia-sia, maka jangan berputus asa ataupun berhenti berdoa.

Sebagai orang tua, kita harus mampu mengikat hati anak dengan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT., membangun supporting system, memberikan contoh, membangun komunikasi yang baik dengan anak, serta berupaya mewarnai atau menshalihkan lingkungan tempat anak-anak kita tinggal dan tumbuh. Semoga kelak Allah SWT. jadikan anak dan keluarga kita sebagai da’i yang bermanfaat untuk umat. (MK/QAR)