Keutamaan Kurban dan Sunnah Bagi yang Hendak Berkurban

Secara istilah, kurban dapat diartikan menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada waktu tertentu pula (Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Hal. 252)

Hukum berkurban menurut mayoritas ulama adalah sunnah mu’akadah. Sunnah mu’akadah adalah ibadah sunnah yang sifatnya sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Kurban menjadi ibadah yang sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan yang tidak dapat digantikan dengan ibadah lainnya. Bahkan sebagian ulama ada yang mengatakan wajib bagi yang memiliki rezeki berlebih. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda :

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah No. 3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalam Syu’abul Imam No. 7334)

Keutamaan Ibadah Kurban

  • Sebagai ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah SWT

Kurban berasal dari bahasa Arab yang berarti mendekat. Kurban adalah ibadah yang istimewa karena dilakukan oleh setiap Nabi dan setiap umat. Sejak Nabi Adam, Ibrahim, dan Ismail hingga Nabi Muhammad saw. telah diperintahkan Allah SWT untuk berkurban dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan bukti rasa syukur. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al Hajj ayat 34

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” (QS. Al-Hajj : 34)

  • Meneladani Sunnah para Nabi dan Rasul

Dengan berkurban, kita telah melaksanakan sunnah Rasulullah saw karena Rasulullah pernah berkurban dengan dua ekor kambing kibas bahkan hingga 100 ekor unta.

“Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : “Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca basmalah dan takbir” (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966).

  • Mendapatkan pahala dan ridho dari Allah SWT

Ibadah kurban adalah bukti ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dengan keikhlasan (dengan memurnikan ketaatan) dalam melakukan perintah Allah agar dengan hewan yang kita kurbankan, bisa mendekatkan diri kita kepada Allah sehingga Allah menurunkan hidayah, ampunan, pahala dan ridho-Nya.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Hajj:37)

  • Ibadah kurban adalah salah satu ibadah yang dicintai oleh Allah SWT

Berkurban adalah amalan yang paling dicintai Allah pada hari Idul Adha. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Hakim, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Sayidah Aisyah, Nabi saw. bersabda :

“Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah dibanding mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Imam Hakim, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

  • Dapat menyebarkan kebaikan dan manfaat untuk orang lain

Daging kurban memiliki kebaikan dan manfaat bagi orang lain khususnya bagi yang kurang beruntung bisa mengonsumsi daging setiap hari. Dalam pembagian daging kurban ini terdapat isyarat dari Allah agar kita saling berbagi kebahagiaan kepada sesama.

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS Al Hajj:28)

Sunnah Bagi yang Hendak (Berniat) Berkurban

Sunnah kurban adalah hal-hal yang dianjurkan untuk dilakukan jika kita berkehendak (berniat) untuk berkurban. Sunnah tidak harus berbentuk perintah namun juga bisa berbentuk larangan. Bagi yang sudah memiliki niat untuk melaksanakan ibadah kurban, maka dilarang baginya melakukan dua hal yaitu:

  1. Memotong Kuku
  2. Mencukur Rambut (seluruh rambut yang ada di tubuh)

Hal ini sesuai dengan hadist Nabi saw.

“Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

Para ulama yang faqih, berpendapat bahwa rambut dan kuku yang tidak boleh dipotong adalah milik orang yang hendak berkurban, bukan milik hewan yang akan dikurbankan. Para pekurban yang telah niat berkurban, tidak diperbolehkan memotong kukunya dan mencukur rambutnya sampai hewan kurban miliknya telah selesai disembelih.

Adapun hikmah yang bisa kita ambil dari sunnah dilarang memotong kuku dan rambut ini adalah, agar ketika kita telah selesai berkurban, maka diampuni dan dibersihkan jiwa raga kita dari segala dosa tanpa meninggalkannya sedikit pun, bahkan meski sehelai rambut. Wallahu’alam bisshawab. (Qur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *