Kesetiakawanan Santri Rumah Tahfizh Sukses

“Sahabatmu” belum tentu sahabatmu. Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, “Berapa orangkah sahabat sejatimu?” Jawab beliau, “Aku tidak tahu. Tungguhlah nanti ketika aku sedang kesulitan, lalu lihatlah berapa orang yang masih setia membersamaiku. Itulah sahabat sejatiku.”

Begitulah arti kesetiakawanan yang hakiki. Seorang sahabat tentu akan selalu mencintai sahabatnya melebihi dirinya sendiri. Baik dikala senang maupun dikala susah. Dimana ketika kita mendapat kesenangan dirinya tidak merasa iri, dan ketika kita merasa kesusahan dirinya tidak bersenang – senang diatas penderitaan kita.

Hal tersebut dapat dilihat dari kisah persahabatan yang terjadi pada santri Rumah Tahfizh Sukses akhwat yang merupakan salah satu program Rumah Tahfizh LAZ Zakat Sukses yang sudah berdiri sejak bulan Maret 2019. Beranggotakan 7 orang akhwat yang dibina setiap hari untuk berkomitmen menjadi seorang hafizhah dalam satu atap bukanlah hal mudah. Ditambah hal tersebut harus dijalani selama 2 tahun, pastinya sangat membutuhkan orang yang selalu mensupport kita.

Ada kisah ketika Mahdiyyah, salah satu santri Rumah Tahfizh Sukses didiagnosa jatuh sakit parah dan harus mengalami perawatan jalan dirumahnya selama 12 bulan. Kabar tersebut didapatkan setelah lebaran 1440H pada saat kondisi Mahdiyyah terus menurun. Tentunya Mahdiyyah harus pulang dan tidak melanjutkan program Rumah Tahfizh Sukses tersebut.

Merasa iba, teman – teman Rumah Tahfizh Sukses berinisiatif untuk menjenguk Mahdiyyah kerumahnya pada tanggal 7 Juli 2019. Karena sudah menjalani waktu – waktu program Rumah Tahfizh bersama, mereka merasa seperti keluarga sendiri.

dari kiri : Ayah Mahdiyyah, Mahdiyyah, dan teman – teman Rumah Tahfizh Sukses.

Dengan membawa buah naga yang merupakan kesukaan Mahdiyyah serta sup buatan rumah, mereka berjalan dari Rumah Tahfizh Sukses menuju kediaman Mahdiyyah. Sampai disana semuanya melepas kangen seakan tidak bertemu diwaktu yang cukup lama. Pihak keluarga berterima kasih kepada teman – teman dan musrifah/pengawas yang ikut juga menemani mereka menjenguk. Suasana ditutup dengan berfoto bersama dan juga berpamitan.

Begitulah kisah sahabat yang dibangun atas rasa cinta. Tidak ada yang saling menuntut, yang ada hanya saling memberikan pemberian terbaik bagi para sahabatnya.