Edukasi Budidaya Lele, Siswa SMATer Cinangka LAZ Zakat Sukses Kunjungi Peternakan Lele

Budidaya lele kini menjadi lahan bisnis yang cukup banyak digemari orang. Lele yang memiliki nilai ekonomis tinggi menjadi salah satu alasan masyarakat memilih ikan air tawar ini sebagai ladang usaha. Selain karena perawatannya mudah, lahan yang digunakan juga tidak terlalu besar. Sehingga dengan lahan kecil bisa memperoleh hasil yang maksimal.

Sekolah Menengah Atas Terbuka (SMATer) Cinangka LAZ Zakat Sukses adalah salah satu dari sekian masyarakat yang memilih lele sebagai objek budidaya. Sekolah ini memberikan edukasi kepada para siswanya untuk membudidayakan lele dengan harapan mereka dapat memanfaatkan nilai ekonomis lele dan menumbuhkan jiwa wirausaha.

Seperti yang dilakukan pada hari Minggu 22 Desember 2020, belasan siswa SMATer beserta para guru berkesempatan untuk mengunjungi peternakan lele. Peternakan lele tersebut merupakan milik Pak Ali yang berada di Pengasinan, Kota Depok. Kunjungan dilakukan pada pagi hari agar para siswa tidak melewati momen pengangkatan dan penyortiran benih lele yang hanya boleh dilakukan pada pagi dan sore hari agar lele tidak stres.

Sebelum melakukan penyortiran, Kepala Sekolah SMATer Cinangka LAZ Zakat Sukses, Bapak Kurnia memberikan sambutan kepada para siswa. Setelah memberi sambutan, Bapak Kurnia langsung memimpin pembukaan acara tersebut.

Setelah dibuka, Pak Ali selaku pemilik dan pelaku usaha budidaya lele memimpin para siswa dan guru untuk turun ke kolam lele yang siap untuk diangkat. Sekitar kurang lebih dua kolam diambil dalam kegiatan ini. Para siswa dan guru SMATer antusias dalam melakukan pengangkatan lele dari kolam.

Setelah diangkat, lele langsung disortir sesuai ukurannya. Penyortiran dilakukan dengan cara menyaring dengan baskom yang sudah dilubangi sesuai ukuran yang dibutuhkan. Selain itu, bibit lele yang dianggap lincah dan bagus akan dipisahkan secara khusus karena bisa digunakan sebagai bibit unggul. 

“bibit unggul ini bisa kita manfaatkan dan dijual dengan harga tinggi. Oleh karena itu kita pisahkan” ujar Pak Ali dalam menerangkat proses penyortiran benih lele.

Benih lele yang sudah disortir akan dikemas dengan plastik yang sudah diberikan oksigen. Dengan jumlah sekitar 100 hingga 200 lele, Pak Ali biasa menjual benih tersebut kepada para pelanggannya.

Setelah penyortiran, benih yang sudah dikemas diperbolehkan dibawa pulang oleh para siswa dan guru. Benih yang diberikan itu diberikan sebagai modal mereka untuk belajar bagaimana berternak lele. Para siswa dan guru merasa senang atas pemberian benih dan kegiatan yang telah dilakukan. Mereka berharap semoga kegiatan tersebut dapat memberikan bekal kepada mereka dalam usaha budidaya lele.