pray

Daniel Mananta Mualaf? Ambil Pelajarannya!


Daniel Mananta Mualaf? Ambil Pelajarannya! – Daniel Mananta yang merupakan presenter ulung Indonesia belakangan menjadi pusat perhatian lantaran ia dikabarkan mualaf atau memeluk agama Islam.

Walaupun demikian, hingga saat ini Daniel belum menyatakan dirinya sebagai mualaf secara terang-terangan kepada publik.

Jika melihat kembali perjuangan Daniel Mananta terlebih pada kehidupan spiritualnya, maka kita dapat mengambil banyak pelajaran bermakna. Bahkan hal itu pun sejalan dengan tuntunan Islam.

Dalam sebuah kesempatan Daniel menjadi tamu dalam podcast @Kasisolusi milik Deryansha Azhary, yang diunggah pada 17 November 2022 lalu. Daniel menjawab berbagai pertanyaan seputar perjalanan kehidupan spiritualnya.

Daniel memulai saat ia masih di bangku sekolah, yang sering menjadi bahan bully bagi teman-temannya karena rambutnya yang penuh uban.

Hingga pada 2003 ia menjadi VJ di MTV Indonesia dan beberapa tahun kemudian sebagai host pada ajang bergengsi musik tanah air yaitu Indonesian Idol.

Saat menjadi presenter terkenal, Daniel merasa menemukan jati diri dan mengetahui bakatnya dalam dunia public speaking. Bahkan Daniel mengungkapkan akan melalukan apa saja demi predikat popularitas di hidupnya.

Kemudian, saat dipuncak ketenaran ia pernah menderita tumor jinak pada pita suaranya, yang mengakibatkan ia tidak bisa berbicara. Meski sudah menjalani operasi, ia tetap tidak bisa bicara selama satu bulan, dan tidak kunjung sembuh.

Pada suatu ketika ia direkomendasikan temannya meminta doa kepada pemuka agama untuk mengembalikan suaranya. Singkatnya, ia sudah meminta doa, namun suaranya masih juga tidak sembuh.

Di sinilah kisah spiritual Daniel dimulai. Ketika berdoa ia merasakan ketenangan yang sebelumnya ia tidak pernah rasakan, tidurnya pun jauh lebih nyenyak dari sebelumnya.

Singkatnya sampai saat ini, ia masih mencari sosok yang selama ini ia cari yaitu Tuhan. Pada akhirnya ia bertemu dengan Ustadz Abdul Somad (UAS) ia semakin merasakan ketenangan.

Daniel juga mengungkapkan, saat podcast bersama UAS, ia seperti orang kebingungan (blank), dan tidak sadar pertanyaan apa yang ia berikan kepada UAS. Karena momen itu mengalir begitu saja.

Bahkan Daniel sempat gemetaran ketika wawancara dengan UAS. Ia mengaku bahwa pertanyaan yang muncul dalam benaknya merupakan lindungan dan arahan dari Tuhan.

Setelah bertemu dengan UAS, Daniel mengungkapkan sekarang justru viewer di akun youtube miliknya sudah tidak menjadi hal utama yang ia kejar dalam hidupnya, melainkan dampak dan kebermanfaatan dari podcast yang ia suguhkan kepada orang banyak.

Mendengar hal tersebut UAS sangat tersentuh, dan akhirnya Daniel diundang datang ke Pekan Baru kampung halamannya UAS. Daniel pun dengan senang hati mengonfirmasi akan datang bersama istrinya.

Tujuan kunjungan Daniel ke tempat UAS dituturkan untuk menjalin hubungan tanpa adanya tim media yang ikut. “Gue mau membangun hubungan dengan UAS, gak ada podcast dan video-video” tutur Daniel.

Namun, Daniel juga sempat menyesal karena pada saat upload foto bersama dengan UAS, kemudian melihat komentar dan likes, niatnya menjadi goyah dan terbuai untuk membuat konten. Padahal rencana awalnya tidak ingin membuat konten apa pun.

Saat membaca komentar dan melihat likes, ia baru sadar bahwa membangun hubungan itu lebih penting dari pada sekedar ingin memberitahu orang-orang tentang toleransi antar agama antara keluarga Daniel dengan keluarga UAS.

Pandangan Daniel Tentang Islam

Terakhir, Daniel ditanya tentang bagaimana pandangannya terhadap Islam yang disangka radikal dan intoleran oleh sebagian orang.

Daniel menjawab dengan memberikan umpama pada sebuah kisah yang terjadi berabad-abad sebelum Masehi, yakni kisah sekelompok orang buta dan gajah.

Pada suatu kota, sekelompok orang buta mendengar akan ada gajah yang datang ke kota mereka, yang awalnya mereka semua tidak mengetahui seperti apa bentuk dari gajah.

Singkat cerita, sampailah sekelompok orang buta tersebut ke tempat gajah, salah satu diantara mereka memegang belalai gajah dan berkata “oh gajah itu seperti ular yang panjang”.

Orang buta yang memegang bagian kaki gajah mengatakan “Tidak, gajah tidak seperti ulat tetapi seperti batang pohon, kokoh sekali”.

Sedangkan orang buta yang lain mengatakan “Tidak, gajah itu seperti tembok karena dagingnya sangat tebal” ada pula yang berkata “Tidak, gajah itu seperti pedang, tajam dan halus sekali karena memegang gading gajah”.

Dari cerita di atas, Daniel menyimpulkan itulah kasih sayang Tuhan. Di mana kasih sayang itu berbeda-beda dan sangat luas. Namun, manusia terkadang menyimpulkan kasih sayang Tuhan hanya seperti apa yang dia rasakan.

Dari pembahasan di atas, dapat kita ambil hikmah bahwa, orang non muslim saja begitu semangat dan gigih ingin mengenal Islam. Begitu pula harusnya dengan kita yang memang sudah terlahir sebagai Islam.

Kita juga seharusnya bisa melihat musibah sebagai jalan untuk kembali kepada Allah SWT. Saat kita terpuruk dan jatuh pada kesedihan yang dalam, saat itulah sesungguhnya Allah ingin kita kembali mengingat-Nya dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Sama seperti Daniel yang semakin dekat kepada Tuhan setelah musibah yang dialaminya.

Alangkah beruntungnya kita mendapatkan rahmat yang tidak terhitung luasnya dengan menjadi umat Islam. Mari kita saling berkasih sayang karena Allah SWT. Salah satunya dengan memperluas pengetahuan kita tentang Islam. Dan membawa kedamaian bagi seluruh alam.

Islam juga selalu mengajarkan kita untuk membantu orang yang dalam kesusahan, dan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan. Zakat Sukses membuka kesempatan kepada sahabat yang ingin membantu korban gempa Cianjur berupa bantuan logistik dan makanan. Alhamdulillah bantuan tahap pertama sudah disalurkan, Anda dapat membaca beritanya [disini.]

Mari bantu kuatkan penyintas gempa di Cianjur melalui Sahabat Berbagi