Beginilah Jerih Payah Ibu Siti dalam Mencukupi Kehidupan Sehari-Hari


Beginilah Jerih Payah Ibu Siti dalam Mencukupi Kehidupan Sehari-Hari – Ibu Siti Khodijah, seorang ibu rumah tangga berusia 45 tahun. Ia bekerja setiap hari sebagai penjual makanan di daerah Kelapa Dua, Cimanggis, Depok. Di situasi pandemi saat ini, ia kesulitan mendapatkan pelanggan yang dulunya mayoritas mahasiswa yang tinggal di kostan di sekitar warung jualannya. Penghasilannya saat ini sekitar Rp140.000 perhari sehingga dalam sebulan dapat terkumpul Rp4.200.000,00 (penghasilan kotor). Namun hasil yang didapatkan tersebut pun hanya cukup untuk kembali membeli bahan jualannya serta memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk biaya sekolah ketiga anaknya.

Bu Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertama berusia 17 tahun, menduduki bangku kelas 3 SMA. Anak kedua berumur 12 tahun, menduduki kelas 6 SD. Dan anak ketiga berumur 8 tahun, menduduki kelas 2 SD. Setiap bulannya Bu Siti bersama suaminya harus mengeluarkan uang sekitar 200 ribu untuk kebutuhan sekolah anaknya, seperti membayar uang komite dan paket internet PJJ. Saat ini, dua orang anaknya akan lulus dan naik ke tingkat pendidikan selanjutnya, Bu Siti dan suaminya masih bingung dengan kelanjutan pendidikan anak-anaknya tersebut.

Ia memiliki seorang suami bernama Pak Hadi yang bekerja sebagai driver gojek. Namun, karena motor yang digunakan sudah cukup tua dan tidak bisa digunakan dengan baik, maka Pak Hadi hanya menggunakannya untuk menerima orderan makanan (Go-Food). Penghasilannya pun tidak menentu setiap harinya, sebulan ia hanya bisa mendapatkan sekitar Rp1.800.000,00 (penghasilan kotor). Selain itu, seringkali motor yang digunakan mengalami masalah, sehingga setiap minggunya harus di servis dengan harga yang tidak murah bagi mereka.

Saat ini keluarga mereka memiliki hutang 1 juta kepada seorang rentenir. Bu Siti berhutang karena terpaksa harus segera melaksanakan khitan (sunat) untuk anak keduanya yang sudah beranjak remaja. Kini ia hanya bisa menyicil utang tersebut dari hasil penjualannya sehari-hari. Selain itu, biaya listrik yang harus mereka bayarkan sekitar 500 ribu setiap bulannya (1300 VA non-subsidi) cukup menambah kesulitan ekonomi bagi mereka.

Namun dengan segala kondisi yang ada, sebuah rasa syukur tetap diungkapkan oleh Bu Siti karena ketiga anaknya bisa tumbuh dengan aktivitas keagamaan yang baik, mulai dari sholat berjamaah, belajar dan mengajar quran, serta terlibat aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan di lingkungannya. Hal ini tidak lepas dari peran Bu Siti yang selalu mengajarkan anak-anaknya agar tumbuh lebih baik dari kedua orang tuanya. Bu Siti selalu berusaha memprioritaskan anak-anaknya, bahkan untuk urusan makan dan belanja anaknya sehari pun ia cukupkan agar tidak kurang dari anak-anak lainnya. Ia berharap anak-anaknya bisa tumbuh menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.

Berkat perjuangannya dalam mencukupi kehidupan sehari-hari, Ibu Siti Khodijah mendapatkan hadiah dari LAZ Zakat Sukses melalui program “Hadiah Akhir Tahun untuk Ibu”. Hadiah tersebut diberikan kepada seorang wanita yang kuat, semangat dalam menjalani hidup dengan bekerja keras, namun memiliki keterbatasan ekonomi. Semoga dengan hadiah tersebut dapat mempertahankan semangat yang dimiliki oleh Ibu Siti dalam bekerja dan mengurus keluarganya, Aamin…